Monday, July 21, 2008

Exxon Terlibat Pelanggaran HAM

21 Juli 2008

Mahkamah Agung Amerika Serikat menyatakan Exxon Mobil melanggar HAM berat di Aceh. Gergasi minyak dan gas ini terlibat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan yang melindungi operasi perusahaan ini di Aceh.


Kasus ini berawal dari seringnya terjadi aksi kekerasan terhadap warga di sekitar kompleks Exxon Mobil di Lhokseumawe NAD pada masa pelaksanaan Daerah Operasi Militer di Aceh. Beberapa aktivis SIRA termasuk Faisal Ridha yang kala itu menjabat sebagai Anggota Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) berkumpul dan berdiskusi untuk membicarakan keterkaitan Exxon Mobil dengan peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut. “Seringkali terjadi kasus penyiksaan, pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan yang dilakukan aparat keamanan Indonesia yang menjaga ladang gas Exxon Mobil,” kata Faisal yang kini menjabat sebagai asisten gubernur NAD.


Aktifitas diskusi dan pengumpulan data ini dilakukan secara sangat rahasia dengan alasan keamanan. “Exxon adalah korporasi besar dan mereka bisa membayar militer Indonesia kala itu untuk melakukan apapun terhadap orang yang dianggap bertentangan,” jelas Ketua Departemen Hubungan Internasional di DPP Partai SIRA Helmy Nugraha.

Salah satu contoh kasus pelanggaran HAM itu terjadi pada bulan Januari 2001. Pada suatu pagi seorang pedagang sayur melintas di depan Kompleks Exxon Mobil yang dijaga sekelompok tentara. Si pedagang yang dirahasiakan namanya dengan inisial "John Doe I" sedang dalam perjalanan dengan mengendarai sepeda menuju ke pasar untuk berdagang. Entah kenapa tiba-tiba ia dihampiri oleh beberapa prajurit TNI Unit 113 yang tugas jaga di Exxon Mobil. Tanpa sebab yang jelas, mereka lalu menembak tangannya dan melemparkan granat ke arahnya, lalu meninggalkan korban dalam keadaan tak bernyawa. “Selama sembilan tahun DOM kamp Rancong dan Pos A 13 yang berada di kawasan Exxon adalah gerbang kematian bagi rakyat Acheh,” kata Helmy yang kala kasus itu meletus belum terlibat dalam kasus ini.

Faisal dan aktivis SIRA lainnya lalu mencoba kemungkinan untuk melakukan gugatan terhadap Exxon. Karena tak mungkin mengajukan gugatan itu di Indonesia, mereka mencoba membawanya ke luar negeri. Isu ini lalu digaungkan ke dunia internasional yang kemudian direspon oleh International Labor Right Fund (ILRF) –sebuah organisasi hak asasi manusia yang bermarkas di Washington DC– dengan mengirimkan pengacara utamanya Terry Collingsworth untuk mengunjungi Aceh guna mengumpulkan bukti-bukti pada bulan Maret 2001.

Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut, 11 korban dan ahli waris korban yang diwakili oleh ILRF mengajukan gugatan ke Pengadilan Federal Washington yang memulai sidangnya sejak bulan Mei 2002. Tuduhannya, Exxon Mobil terlibat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan yang melindungi operasi perusahaan ini di Aceh. “UU yang digunakan adalah Alien Tort Claim Act yang memungkinkan warga asing untuk menggugat perusahaan Amerika Serikat karena pelanggaran HAM,” kata Faisal.

Pada bulan Mei 2002 majelis hakim memenangkan gugatan ini. Namun Exxon yang tak terima dengan keputusan tersebut menyatakan banding ke pengadilan tinggi Washington. Bulan Juni 2006 keluar keputusan dari pengadilan tinggi yang menyatakan Exxon tetap bersalah. Tak puas, Exxon maju ke tingkat Mahkamah Washington. Hasilnya, pada 15 Juni 2008 lalu Mahkamah Washington menguatkan keputusan pengadilan di tingkat sebelumnya. Raksasa migas itu dinyatakan terbukti terlibat dalam pelanggaran HAM Berat di Aceh. Namun hingga proses peradilan rupanya belum juga tuntas. Pasalnya hakim mahkamah belum memutuskan jumlah kompensasi yang mereka bayar kepada korban atau keluarga korban. “Majelis Hakim Agung Washington masih menghitung nilai yang harus dibayarkan Exxon Mobil kepada 11 Penggugat,” terang Helmy.

Tak mudah memang bagi majelis hakim untuk memutuskan kompensasi yang diberikan kepada para penggugat. Pasalnya jumlah kompensasi itu diperkirakan mencapai miliaran dollar. “Berdasarkan informasi yang saya terima dari tim pengacara, ada kasus sejenis yang baru selesai belasan tahun,” kata Faisal. Meski begitu ia optimis mahkamah agung dapat memutuskan masalah ini secara adil mengingat track record hakim Amerika pada pengadilan terdahulu.

Hingga saat ini identitas ke 11 penggugat ini sengaja dirahasiakan dengan alasan keamanan. Serupa dengan kasus gugatan korban HAM lainnya, korban HAM umumnya adalah pihak yang memang lemah dan rentan untuk terkena intimidasi atau upaya negatif dalam usaha menghentikan kasus oleh pihak tergugat. “Nama mereka harus dirahasiakan, data mereka disembunyikan. Yang boleh mengetahui, hanya pengacara penggugat dan pengadilan,” kata Helmy.

Dalam surat gugatan, mereka menggunakan inisial John Joe dan Jane Joe. Di Amerika Serikat, seseorang yang tidak dikenal identitasnya disebut dengan nama John Doe. Dan bila seseorang yang tidak dikenal identitasnya itu adalah seorang wanita maka disebut sebagai Jane Doe.

Sejatinya, upaya menggalang dukungan atas kasus ini di luar forum pengadilan juga dilakukan oleh kalangan pergerakan Aceh di luar negeri. Konsulat SIRA Amerika Serikat yang diketuai Munawar Liza Zein –sekarang Walikota Sabang– pada tahun 2004 sempat mengadakan seminar yang memaparkan fakta mengenai keterlibatan Exxon, kepada para pemegang Saham Exxon di Texas. Dalam forum itu kata Helmy, para pemegang saham tersebut menyatakan tidak sepakat dengan tindakan Exxon dan mendukung upaya-upaya penghentian suply Exxon kepada TNI. Namun tak jelas juga apakah ini ditelurkan dalam kebijakan perusahaan atau tidak. “Lebih lanjut silahkan konfirmasi ke Exxon apakah itu dibicarakan dalam rapat pemegang saham atau tidak,” tuturnya.

Atas putusan MA AS ini, Communication Manager Exxon Mobil Deva Rachman, mengaku sangat prihatin. Menurutnya, karena dalam hal keamanan di sekitar pabrik sebenarnya bukan tanggung-jawab Exxon. “Tapi tentu saja kami ingin menegaskan dalam hal operasional Exxon Mobil sangat menjunjung tinggi HAM. Ini berlaku baik untuk internal karyawan kami maupun masyarakat sekitar,” tutur Deva. Sayangnya ia tak mau berkomentar lebih jauh dengan alasan kasus tersebut ditangani Exxon pusat.

Inspirasi Bagi Perjuangan HAM
Keterlibatan Exxon ini tak lain karena memberikan jatah pengamanan proyek kepada TNI. Ini tak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga terjadi di daerah lain seperti Papua dan Kalimantan. Berdasarkan data dari Kontras Aceh Exxon memberikan subsidi kepada 17 pos kesatuan aparat. Exxon mengeluarkan Rp 5 milyar untuk dana keamanan, termasuk uang saku Rp 40 ribu per prajurit per hari, transportasi, penyediaan kantor, pos, barak, radio, telepon, dan mess.

Lembaga ini juga menyatakan Exxon membeli "kendaraan Militer" sebanyak 16 unit mobil anti peluru, jenis Jeep, Chevrolet Suburbn, Toyota Land Cruiser, Land Rover, Defender Gearbox dan mercedez yang harganya berkisar Rp. 1 Miliar hingga Rp. 3 Miliar/unit untuk keperluan militer. “Data-data ini diajukan sebagai alat bukti oleh pengacara penggugat di pengadilan,” kata Helmy.

Direktur International Forum For Acheh Robert Jeresky dalam laporannya tertanggal 25 Juni 2001, menyebut kekerasan makin menggila setelah Exxon Mobil menekan pemerintah melahirkan Inpres No.IV/2001 dan menyebut GAM sebagai gerakan separatis. “Semoga kemenangan ini dapat menjadi inspirasi bagi perjuangan penegakan HAM di tingkat nasional,” harapnya.

Dalam versi yang berbeda, tulisan ini diterbitkan di Majalah TRUST Edisi 39 Th. VI

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, May 27, 2008

Otak Udang

BBM naik? Gw g peduli! G punya mobil ini, g perlu repot2 mikirin beli bensin

Harga sembako mahal? Bodo amat! Kalo g punya duit, ya makan telek aja

Ongkos transport ngelunjak? Emang gw pikirin! Duduk manis aja di rumah

Orang miskin makin banyak? Ke laut aja rame2! Tapi gw ikut ya

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, November 15, 2007

Mimpi Yang Mewujud

Kalo terus dipelihara, suatu saat mimpi yang kita punya pasti akan mewujud.


Hehe.. Gw udah membuktikan pernyataan itu. Beberapa mimpi (atau bisa juga disebut keinginan) yg gw miliki pada akhirnya kewujud juga. Meski harus menunggu belasan tahun. Salah satunya ya seperti di bawah ini..

Buat yang tinggal di atau pernah ke Bandung, mungkin tau yang namanya Taman Lalu-Lintas. Tempatnya g jauh dari SMA 5. tepatnya sih di depan Kantor Paguyuban Pasundan (Kalo g tau tanya tukang becak aja, hehe..). Satu petunjuk lagi, kalo malem, tempat ini dijadikan tempat mangkal banci (wah, kalo ini kayaknya banyak yang tau nih!).

Waktu gw berumur 5 tahun (sekarang umur gw 24), gw diajak ke Bandung sama mamah. Dah lupa tuh ngapain waktu itu kesana. Yang pasti, gw berangkatnya dari rumah nenek di Cianjur. Kesananya nggak bedua, tapi sama alm. Bi Ayi dan Iyus anaknya (kalo g salah Bi Deuis ikut juga).

Nah, singkat cerita kami mampir di Taman Lalu-Lintas. Alm. Bi Ayi, Iyus, dan Bi Deuis masuk ke dalam. Sementara gw g mau. Jadinya gw bedua sama mamah nunggu di luar. Entah kenapa dari dulu sampe sekarang gw orangnya g pedean. Gw g pede kalo lagi berada di tengah orang-orang yang g gw kenal (Aneh, kok sekarang gw bisa jadi wartawan ya??).

Saat itu, di dalam taman emang lagi banyak orang. Ada anak-anak yang lagi main perosotan, jungkat-jungkit, dan beragam wahana permainan anak yg entah apa namanya.

Tiba-tiba gw ngeliat kereta api yang lagi jalan. Wush...
Kereta api itu berjalan layaknya kereta milik PT KAI. Bedanya, selain ukurannya yang lebih kecil, gerbongnya hanya memiliki dua kursi berukuran sedang yang letaknya saling berhadapan (kayak kursi belakang limousine di film2 yg gw tonton). Dua kursi itu paling bisa memuat empat penumpang.

Gw langsung kepengen naek tu kereta. Maklum, gw belum pernah naek kereta api. Ngeliat banyak anak-anak yang bersorak-sorai diatasnya gw juga jadi kepengen ngerasain kegembiraan itu.

Sedihnya, mamah g mau gw ajak masuk. Dia bilang, udah sore nanti malah kemaleman sampe Cianjur. Gw terus merengek sambil sesenggukan. Tak lama, Iyus, Alm. Bi Ayi, dan Bi Deuis keluar dari taman dan menghampiri kami. Tau kalo gw ngrengek pengen naek kereta, salah satu dari kedua bibiku (gw lupa siapa pastinya) bilang kalo Iyus pun g kebagian tempat di kereta yang penuh sesak itu.

Sampai belasan tahun kemudian, pengalaman itu masih membekas di kepala gw. Keinginan buat menaiki kereta itu tetap menyala meski gw bukan anak-anak lagi. Dan karena alasan bukan anak-anak lagi itulah gw ngerasa malu buat kesana.


Belasan tahun kemudian (hehehe…)

Suatu hari (Sabtu, sekitar jam 3an) bokin gw ngajak jalan-jalan. Tapi dia g bilang mau kemana. Dari kampus gw di Lengkong Besar, kami naik angkot Kelapa-Ledeng. Gw kirain dia mo ngajak ke BIP. Eh, dia malah ngajak turun di depan Taman Lalu-Lintas.

Mungkin karena udah sore, di dalam taman hampir nggak ada siapa-siapa. Tapi itu g penting, sebab akhirnya mimpi masa kecil gw kewujud! Gw akhirnya naik kereta itu meski keretanya nggak jalan. Srasa plong banget! Gw duduk bedua ma bokin sambil senyum-senyum sendiri, teringat kenangan masa lalu. Terbayang puluhan anak kecil yang berdesak-desakan di atas gerbong kereta, dan disitu gw ikut bersorak bareng mereka..

[+/-] Selengkapnya...

Monday, November 12, 2007

Melek Blog Sejak Dini

Jazz is my soul. You know what? I think, Jazz music is a very refreshing and calm music. You hear all the words in jazz music and sing when you hear the song. You will know the text by heart when you repeat the song.





Kutipan diatas diambil dari http://sarasonline.com/. Tulisan lengkapnya bercerita tentang si pemilik blog yang gagal menonton konser Maliq and d’essensial kala pagelaran JakJazz setahun silam.

Pemilik blog ini adalah murid kelas 6 SD Madania, Bogor bernama Saraswati Kartika Malta atau yang kerap disapa Saras. Perkenalannya dengan dunia blogging diawali kebiasaannya menulis pengalaman-pengalamannya di buku diary. Begitu halaman kosong di buku itu habis, Saras harus menggantinya dengan buku yang baru. Kenyataan ini menjadi pahit tatkala catatan-catatan pribadinya ini raib. “Bukunya sering ilang,” kata Saras.

Ayahnya, S. Malela Mahargasarie yang tahu hal ini, memberi saran kepada Saras untuk mengganti media tempat ia menulis. “Aku dikasih tau ayahku, ada buku yang online,” tuturnya. Namun ia tak serta merta mengikuti saran ayahnya. Pasalnya, meski internet sudah dikenal Saras sejak kelas 2 SD. Namun saat itu ia menggunakan internet sebatas memanfaatkan fasilitas email dan browsing di google. Ditambah tak seorangpun di keluarganya yang memiliki jurnal maya semacam ini.

Untunglah dua teman ayahnya bersedia mengajarkan ia soal membuat buku online yang lalu dikenalnya dengan nama blog ini. “Pertama kali bikin blog diajarin lewat online sama Om Wicak (Wicaksono) sama Om Puji (S. Pujiono), temen ayahku,” kisahnya. Dari situ, Saras mulai belajar mendesain dan memposting sendiri blognya hingga mahir tanpa perlu bantuan orang lain.

Buatnya, memiliki blog tak hanya membuatnya memiliki banyak teman. Tapi juga sebagai tempat bertukar pikiran dan saling berbagi info. “Aku kadang ngasih tau kalo ada acara bagus di TV,” katanya. Sayangnya, “Aku punya banyak banget temen tapi nggak bisa liat,” ucap anak salah satu petinggi Tempo ini.

Nasib baik berpihak padanya. Saat Pesta Blogger digelar, anak perempuan yang baru berusia 11 tahun ini bisa bertemu langsung dengan teman-temannya. “Aku ketemu sama Om Enda dan Om Wimar Witular sama Ndoro kakung, itu loh yang blognya Pecas ndahe by Ndoro kakung, Om Budi Putra, Om Puji (jalan Sutra),” begitu kata Saras dalam blognya.

Saras memang baru kelas 6 SD. Tapi jangan dikira, postingan dalam blognya melulu bercerita tentang pengalaman di kelas yang baru, keluhan soal temannya yang nyebelin, cerita tentang keluarganya, atau kisah soal pengalaman liburan. Anak perempuan ini malah rajin menulis resensi, mulai dari buku, film, pertunjukan musik, hingga pertunjukan opera. Tentunya dalam gaya bertutur khas anak-anak. Lihat saja tulisannya soal opera The King Witch yang ia tonton sekitar akhir tahun lalu. “Menurutku, slidenya sama musiknya itu bingungin banget. Masa, waktu kita memperhatikan slidenya, eh… tiba tiba “dung!!!” suara musiknya jadi ngalihin perhatianku. Aku jadi bolak-balik bolak-balik dari musik ke gambar slide.”

Bertemu anak seperti Saras, tak sekadar berbuah bahan tulisan. Tapi bocah ini menyentil kesadaran, dan seolah berkata, “Om kok kalah sama aku?”

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, November 06, 2007

Kapan Kita Mati?

Kapan kita mati?
Bukankah seharusnya kita sudah mati sejak kemarin
Sebab tak ada lagi jiwa dalam gubuk reot ini
Semua penghuni berpikir tentang dirinya sendiri
Tak peduli lagi dimana harusnya pondasi berdiri

Dan aku berdiri terpaku di depan pintu
Memandang laut lepas,
Mengutuk kalian yang membuat gaduh dan membikin roboh gubuk reot ini


Kantor, Pukul 22.30 WIB
06 Nov 07

[+/-] Selengkapnya...