21 Juli 2008
Mahkamah Agung Amerika Serikat menyatakan Exxon Mobil melanggar HAM berat di Aceh. Gergasi minyak dan gas ini terlibat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan yang melindungi operasi perusahaan ini di Aceh.
Kasus ini berawal dari seringnya terjadi aksi kekerasan terhadap warga di sekitar kompleks Exxon Mobil di Lhokseumawe NAD pada masa pelaksanaan Daerah Operasi Militer di Aceh. Beberapa aktivis SIRA termasuk Faisal Ridha yang kala itu menjabat sebagai Anggota Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) berkumpul dan berdiskusi untuk membicarakan keterkaitan Exxon Mobil dengan peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut. “Seringkali terjadi kasus penyiksaan, pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan yang dilakukan aparat keamanan Indonesia yang menjaga ladang gas Exxon Mobil,” kata Faisal yang kini menjabat sebagai asisten gubernur NAD.
Aktifitas diskusi dan pengumpulan data ini dilakukan secara sangat rahasia dengan alasan keamanan. “Exxon adalah korporasi besar dan mereka bisa membayar militer Indonesia kala itu untuk melakukan apapun terhadap orang yang dianggap bertentangan,” jelas Ketua Departemen Hubungan Internasional di DPP Partai SIRA Helmy Nugraha.
Salah satu contoh kasus pelanggaran HAM itu terjadi pada bulan Januari 2001. Pada suatu pagi seorang pedagang sayur melintas di depan Kompleks Exxon Mobil yang dijaga sekelompok tentara. Si pedagang yang dirahasiakan namanya dengan inisial "John Doe I" sedang dalam perjalanan dengan mengendarai sepeda menuju ke pasar untuk berdagang. Entah kenapa tiba-tiba ia dihampiri oleh beberapa prajurit TNI Unit 113 yang tugas jaga di Exxon Mobil. Tanpa sebab yang jelas, mereka lalu menembak tangannya dan melemparkan granat ke arahnya, lalu meninggalkan korban dalam keadaan tak bernyawa. “Selama sembilan tahun DOM kamp Rancong dan Pos A 13 yang berada di kawasan Exxon adalah gerbang kematian bagi rakyat Acheh,” kata Helmy yang kala kasus itu meletus belum terlibat dalam kasus ini.
Faisal dan aktivis SIRA lainnya lalu mencoba kemungkinan untuk melakukan gugatan terhadap Exxon. Karena tak mungkin mengajukan gugatan itu di Indonesia, mereka mencoba membawanya ke luar negeri. Isu ini lalu digaungkan ke dunia internasional yang kemudian direspon oleh International Labor Right Fund (ILRF) –sebuah organisasi hak asasi manusia yang bermarkas di Washington DC– dengan mengirimkan pengacara utamanya Terry Collingsworth untuk mengunjungi Aceh guna mengumpulkan bukti-bukti pada bulan Maret 2001.
Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut, 11 korban dan ahli waris korban yang diwakili oleh ILRF mengajukan gugatan ke Pengadilan Federal Washington yang memulai sidangnya sejak bulan Mei 2002. Tuduhannya, Exxon Mobil terlibat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat keamanan yang melindungi operasi perusahaan ini di Aceh. “UU yang digunakan adalah Alien Tort Claim Act yang memungkinkan warga asing untuk menggugat perusahaan Amerika Serikat karena pelanggaran HAM,” kata Faisal.
Pada bulan Mei 2002 majelis hakim memenangkan gugatan ini. Namun Exxon yang tak terima dengan keputusan tersebut menyatakan banding ke pengadilan tinggi Washington. Bulan Juni 2006 keluar keputusan dari pengadilan tinggi yang menyatakan Exxon tetap bersalah. Tak puas, Exxon maju ke tingkat Mahkamah Washington. Hasilnya, pada 15 Juni 2008 lalu Mahkamah Washington menguatkan keputusan pengadilan di tingkat sebelumnya. Raksasa migas itu dinyatakan terbukti terlibat dalam pelanggaran HAM Berat di Aceh. Namun hingga proses peradilan rupanya belum juga tuntas. Pasalnya hakim mahkamah belum memutuskan jumlah kompensasi yang mereka bayar kepada korban atau keluarga korban. “Majelis Hakim Agung Washington masih menghitung nilai yang harus dibayarkan Exxon Mobil kepada 11 Penggugat,” terang Helmy.
Tak mudah memang bagi majelis hakim untuk memutuskan kompensasi yang diberikan kepada para penggugat. Pasalnya jumlah kompensasi itu diperkirakan mencapai miliaran dollar. “Berdasarkan informasi yang saya terima dari tim pengacara, ada kasus sejenis yang baru selesai belasan tahun,” kata Faisal. Meski begitu ia optimis mahkamah agung dapat memutuskan masalah ini secara adil mengingat track record hakim Amerika pada pengadilan terdahulu.
Hingga saat ini identitas ke 11 penggugat ini sengaja dirahasiakan dengan alasan keamanan. Serupa dengan kasus gugatan korban HAM lainnya, korban HAM umumnya adalah pihak yang memang lemah dan rentan untuk terkena intimidasi atau upaya negatif dalam usaha menghentikan kasus oleh pihak tergugat. “Nama mereka harus dirahasiakan, data mereka disembunyikan. Yang boleh mengetahui, hanya pengacara penggugat dan pengadilan,” kata Helmy.
Dalam surat gugatan, mereka menggunakan inisial John Joe dan Jane Joe. Di Amerika Serikat, seseorang yang tidak dikenal identitasnya disebut dengan nama John Doe. Dan bila seseorang yang tidak dikenal identitasnya itu adalah seorang wanita maka disebut sebagai Jane Doe.
Sejatinya, upaya menggalang dukungan atas kasus ini di luar forum pengadilan juga dilakukan oleh kalangan pergerakan Aceh di luar negeri. Konsulat SIRA Amerika Serikat yang diketuai Munawar Liza Zein –sekarang Walikota Sabang– pada tahun 2004 sempat mengadakan seminar yang memaparkan fakta mengenai keterlibatan Exxon, kepada para pemegang Saham Exxon di Texas. Dalam forum itu kata Helmy, para pemegang saham tersebut menyatakan tidak sepakat dengan tindakan Exxon dan mendukung upaya-upaya penghentian suply Exxon kepada TNI. Namun tak jelas juga apakah ini ditelurkan dalam kebijakan perusahaan atau tidak. “Lebih lanjut silahkan konfirmasi ke Exxon apakah itu dibicarakan dalam rapat pemegang saham atau tidak,” tuturnya.
Atas putusan MA AS ini, Communication Manager Exxon Mobil Deva Rachman, mengaku sangat prihatin. Menurutnya, karena dalam hal keamanan di sekitar pabrik sebenarnya bukan tanggung-jawab Exxon. “Tapi tentu saja kami ingin menegaskan dalam hal operasional Exxon Mobil sangat menjunjung tinggi HAM. Ini berlaku baik untuk internal karyawan kami maupun masyarakat sekitar,” tutur Deva. Sayangnya ia tak mau berkomentar lebih jauh dengan alasan kasus tersebut ditangani Exxon pusat.
Inspirasi Bagi Perjuangan HAM
Keterlibatan Exxon ini tak lain karena memberikan jatah pengamanan proyek kepada TNI. Ini tak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga terjadi di daerah lain seperti Papua dan Kalimantan. Berdasarkan data dari Kontras Aceh Exxon memberikan subsidi kepada 17 pos kesatuan aparat. Exxon mengeluarkan Rp 5 milyar untuk dana keamanan, termasuk uang saku Rp 40 ribu per prajurit per hari, transportasi, penyediaan kantor, pos, barak, radio, telepon, dan mess.
Lembaga ini juga menyatakan Exxon membeli "kendaraan Militer" sebanyak 16 unit mobil anti peluru, jenis Jeep, Chevrolet Suburbn, Toyota Land Cruiser, Land Rover, Defender Gearbox dan mercedez yang harganya berkisar Rp. 1 Miliar hingga Rp. 3 Miliar/unit untuk keperluan militer. “Data-data ini diajukan sebagai alat bukti oleh pengacara penggugat di pengadilan,” kata Helmy.
Direktur International Forum For Acheh Robert Jeresky dalam laporannya tertanggal 25 Juni 2001, menyebut kekerasan makin menggila setelah Exxon Mobil menekan pemerintah melahirkan Inpres No.IV/2001 dan menyebut GAM sebagai gerakan separatis. “Semoga kemenangan ini dapat menjadi inspirasi bagi perjuangan penegakan HAM di tingkat nasional,” harapnya.
Dalam versi yang berbeda, tulisan ini diterbitkan di Majalah TRUST Edisi 39 Th. VI
Monday, July 21, 2008
Exxon Terlibat Pelanggaran HAM
Diposting oleh
tedybanka
di
18:52
3
komentar
Monday, November 12, 2007
Melek Blog Sejak Dini
Jazz is my soul. You know what? I think, Jazz music is a very refreshing and calm music. You hear all the words in jazz music and sing when you hear the song. You will know the text by heart when you repeat the song.

Kutipan diatas diambil dari http://sarasonline.com/. Tulisan lengkapnya bercerita tentang si pemilik blog yang gagal menonton konser Maliq and d’essensial kala pagelaran JakJazz setahun silam.
Pemilik blog ini adalah murid kelas 6 SD Madania, Bogor bernama Saraswati Kartika Malta atau yang kerap disapa Saras. Perkenalannya dengan dunia blogging diawali kebiasaannya menulis pengalaman-pengalamannya di buku diary. Begitu halaman kosong di buku itu habis, Saras harus menggantinya dengan buku yang baru. Kenyataan ini menjadi pahit tatkala catatan-catatan pribadinya ini raib. “Bukunya sering ilang,” kata Saras.
Ayahnya, S. Malela Mahargasarie yang tahu hal ini, memberi saran kepada Saras untuk mengganti media tempat ia menulis. “Aku dikasih tau ayahku, ada buku yang online,” tuturnya. Namun ia tak serta merta mengikuti saran ayahnya. Pasalnya, meski internet sudah dikenal Saras sejak kelas 2 SD. Namun saat itu ia menggunakan internet sebatas memanfaatkan fasilitas email dan browsing di google. Ditambah tak seorangpun di keluarganya yang memiliki jurnal maya semacam ini.
Untunglah dua teman ayahnya bersedia mengajarkan ia soal membuat buku online yang lalu dikenalnya dengan nama blog ini. “Pertama kali bikin blog diajarin lewat online sama Om Wicak (Wicaksono) sama Om Puji (S. Pujiono), temen ayahku,” kisahnya. Dari situ, Saras mulai belajar mendesain dan memposting sendiri blognya hingga mahir tanpa perlu bantuan orang lain.
Buatnya, memiliki blog tak hanya membuatnya memiliki banyak teman. Tapi juga sebagai tempat bertukar pikiran dan saling berbagi info. “Aku kadang ngasih tau kalo ada acara bagus di TV,” katanya. Sayangnya, “Aku punya banyak banget temen tapi nggak bisa liat,” ucap anak salah satu petinggi Tempo ini.
Nasib baik berpihak padanya. Saat Pesta Blogger digelar, anak perempuan yang baru berusia 11 tahun ini bisa bertemu langsung dengan teman-temannya. “Aku ketemu sama Om Enda dan Om Wimar Witular sama Ndoro kakung, itu loh yang blognya Pecas ndahe by Ndoro kakung, Om Budi Putra, Om Puji (jalan Sutra),” begitu kata Saras dalam blognya.
Saras memang baru kelas 6 SD. Tapi jangan dikira, postingan dalam blognya melulu bercerita tentang pengalaman di kelas yang baru, keluhan soal temannya yang nyebelin, cerita tentang keluarganya, atau kisah soal pengalaman liburan. Anak perempuan ini malah rajin menulis resensi, mulai dari buku, film, pertunjukan musik, hingga pertunjukan opera. Tentunya dalam gaya bertutur khas anak-anak. Lihat saja tulisannya soal opera The King Witch yang ia tonton sekitar akhir tahun lalu. “Menurutku, slidenya sama musiknya itu bingungin banget. Masa, waktu kita memperhatikan slidenya, eh… tiba tiba “dung!!!” suara musiknya jadi ngalihin perhatianku. Aku jadi bolak-balik bolak-balik dari musik ke gambar slide.”
Bertemu anak seperti Saras, tak sekadar berbuah bahan tulisan. Tapi bocah ini menyentil kesadaran, dan seolah berkata, “Om kok kalah sama aku?”
Diposting oleh
tedybanka
di
21:25
6
komentar
Friday, November 02, 2007
Wahyu Si Bule
29 Agustus 2007Jika sekadar mengenal namanya, mungkin tak ada yang bakal ngeh jika ia bule dari Negeri Kanguru. Maklum, Wahyu Soeparno Putro bukan nama yang lazim untuk orang dari ras kulit putih. Wahyu Soeparno Putro alias Dale Andrew Collins Smith adalah host Diary Si Bule, salah satu segmen dalam acara Berbagi Cerita di ANTV yang dipandu pasangan artis dangdut, Dewi Persik dan Syaiful Jamil. Penampilannya yang jenaka meski terkadang naif membuatnya cepat dikenal pemirsa televisi di Indonesia.
Dale adalah pria berkebangsaan Australia yang lahir di Skotlandia, 28 Juli 1963 lalu. Pada tahun 1994 Dale diajak temannya untuk bekerja di Indonesia. Sang teman kebetulan adalah pemilik sebuah perusahaan handycraft di Yogyakarta. Ia tidak menampik tawaran itu, meski sama sekali tidak memiliki pengalaman studi dan kerja di bidang bisnis. “Saya tidak lagi punya orangtua di Australia, makanya tidak menolak saat diajak ke Indonesia,” kata Dale yang sudah yatim-piatu sejak berusia 20 tahun ini.
Medio 1999, ia memutuskan untuk menjadi mu’alaf. Pengalaman spritualnya ini terbilang cukup unik. Saat bekerja di Jogja, ia diangkat sebagai anak oleh Soeparno, satpam di tempat ia bekerja. Ia lalu tinggal serumah bersama orangtua angkatnya serta kelima saudara barunya. Kebetulan, rumah Soeparno tak jauh dari masjid sehingga setiap azan Subuh menggema, tidurnya selalu “terganggu”. Namun, lama-kelamaan ia menjadi terbiasa dengan suara azan. Malah, mulai banyak bertanya soal Islam. Proses pencarian keimanannya ini berakhir tatkala ia dibaptis menjadi muslim di masjid yang azannya dulu “mengganggu” tidurnya.
Sejak itulah, Dale Andrew Collins Smith berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Nama Wahyu diberikan oleh ayah angkatnya. Sedangkan Soeparno Putro adalah nama yang ia pilih sendiri untuk menghormati sang ayah angkat. "Awalnya mau diganti jadi Muhammad, tapi saya tidak mau karena sebagian besar bule yang masuk Islam bernama Muhammad," ujarnya.
Pada tahun 2001, Wahyu dan ke 700 karyawan lain di tempatnya bekerja terpaksa dirumahkan karena perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar. Karena sudah punya cukup banyak koneksi, taklama ia ditawari untuk bekerja di sebuah perusahaan garmen yang berkantor di Jakarta. Tawaran ini pun tak ditampiknya.
Awal 2006 menjadi tonggak kariernya di dunia hiburan tanah air. Ia mengawalinya sebagai pemeran pembantu di sinetron Toyib Minta Kawin yang diproduksi oleh Multivision Plus. Ia juga pernah bermain di sinetron komedi religi dangdut, Milyarder Geser Pager, yang ditayangkan oleh TPI 4 September tahun lalu. Soal dunia entertainment ternyata bukan hal baru bagi Wahyu. Maklum, ia pernah belajar di Centre for the Performing Arts, Adelaide dan di Victorian College of the Arts, Melbourne Australia. Bahkan ia pernah bekerja sebagai penyiar di sebuah stasiun radio di negeri kanguru ini.
Baginya, Indonesia tak sekadar ladang uang, tapi juga bagian dari dirinya yang tidak terpisahkan. “Saya ingin sekali menjadi warga negara Indonesia, dan baru akan menikah kalau sudah jadi WNI,” ujar bujangan ini. Untuk itu, ia sudah mengurusi soal perpindahan kewarganegaraan ini. “Sekarang sedang dalam proses. Insya Allah Januari 2008 sudah selesai,” terang Wahyu yang telah fasih berbahasa Indonesia ini.
Kecintaannya kepada Indonesia semakin menebal ketika mengasuh acara Diary Si Bule. Pasalnya, ia berkesempatan untuk mengunjungi daerah-daerah di Indonesia dan mengenal keindahan alam, keragaman serta kearifan budaya lokal. “Gila, orang Indonesia sangat ramah dan alamnya indah luar biasa,” ujarnya girang.
Seperti yang dituturkan oleh managernya (namanya lupa euy!)
Diposting oleh
tedybanka
di
08:26
8
komentar
Thursday, September 27, 2007
Pengemis Musiman
26 September 2007
Di bagian dalam Istiqlal –jika masuk lewat pintu nomer 22– di tangga dekat tempat wudhu, Nimanwadi duduk mencangkung di anak tangga kedua dari bawah. Jari-jari tangan kanannya mengusap-usap permukaan beberapa keping uang koin layaknya ibu yang mengelus-elus pantat bayinya. Ia sedang ngrasani angka yang tercetak di koin-koin itu sebab matanya memang tak bisa mendukung otaknya untuk menghitung.
“Sana, duduk disana!” usirnya ketus sambil menunjuk anak tangga lain di atasnya kepada saya yang meminta izin untuk duduk di dekatnya. Setelah dijelaskan, barulah ia mahfum saya hanya ingin ngobrol, bukan hendak merebut periuk nasinya.
Entah berapa usia lelaki ini. “Waktu pemilu tahun 1977, saya didaftarin (sebagai pemilih –red). Padahal umur saya belum cukup,” katanya memberi petunjuk soal umurnya. Meski begitu, wajah dan kulit tangannya yang keriput bicara lain. Mungkin derita hidup membuatnya jadi cepat tua, layaknya orang berusia 60 atau 70 tahunan.
Di kepalanya tersemat peci hitam yang belum lusuh. Kontras dengan wajahnya yang keriput nan kurus. Di anak tangga ketiga, tas gendong miliknya tergeletak. “Isinya hanya baju sesetel,” jelasnya. Dua hari sekali, ia kembali ke rumahnya di daerah Tangerang untuk menukar pakaian. Setelah sehari berkumpul bersama janda beranak tiga yang dinikahinya Januari lalu, ia kembali ke Istiqlal.
Sejak lima tahun lalu, ketika penanggalan arab menunjukan bulan Ramadhan ia selalu melakukan “itikab” di masjid Istiqlal. Shalat, mengaji Al Qur’an di malam hari, dan melakukan amalan-amalan lainnya. Bedanya, selesai shalat Dhuhur hingga menjelang Ashar ia kembali duduk di anak tangga itu. Menanti recehan mengalir ke tangannya. “Ini hanya untuk biaya hidup selama disini saja,” katanya berkilah.
Niman tak sepanjang tahun hidup dari belas kasihan orang lain dengan mengemis. Meski dari situ, ia bisa mengantongi sekitar Rp 15 ribu sehari. Profesi sebenarnya adalah tukang pijit, layaknya kebanyakan tunanetra.
Meski asli orang Tangerang, Niman yang kehilangan penglihatan sejak kecil pernah tinggal di Bandung. Saat ia masih berbau kencur, orangtuanya yang pekerja serabutan mengadu nasib ke Bandung dan memboyongnya kesana. Karena tak mampu membiayai hidup Niman, orangtuanya lalu menitipkannya ke sebuah yayasan sosial. Di sinilah Niman belajar memijit selama dua tahun. Keterampilan yang sebenarnya sudah ia miliki saat tinggal selama setahun di sebuah panti sosial di Tangerang.
Setelah tiga tahun di Bandung, ia dan orangtuanya kembali ke Tangerang. Oleh bapaknya, Niman lalu dititipkan di sebuah pesantren di daerah Rawamangun hingga ia menamatkan pendidikan aliyah. Selepas sekolah, Niman mencoba melamar pekerjaan ke berbagai tempat. Namun, tak banyak lowongan buat orang sepertinya.
Sampai akhirnya, ia mendapat informasi tentang sebuah perpustakaan di Jakarta yang menyediakan koleksi Al Qur’an Braille. Dengan sisa semangatnya yang terakhir, ia menawarkan diri untuk bekerja di tempat itu. “Saya nyoba ngelamar jadi petugas khusus untuk membacakan huruf Braille,” terangnya. Jawaban belum ada lowongan membuat Niman seperti tersadar bahwa satu-satunya pekerjaan yang tersisa buatnya hanyalah menjadi tukang pijit.
Ia lalu kembali ke Tangerang dan membuka praktik pijat di rumah orangtuanya. Kali ini nasib mujur menyambanginya. Meski jarang dikunjungi pasien, sehari ia bisa mengantungi Rp. 10 ribu. Sekitar tahun 1998, bersama beberapa teman seprofesi Niman membuka panti pijat di sebuah kontrakan di Tangerang. Namun dua tahun kemudian, ia kembali berpraktik di rumahnya. “Kontrakan itu mau dipake sama yang punya. Jadi panti pijatnya bubar,” tuturnya.
Menjelang Ashar, Nimanwadi beranjak dari duduknya. Dengan tertatih-tatih, ia menuju tempat wudhu yang berada tak jauh darinya. Usai menyucikan diri, insting memandunya ke lantai dua untuk shalat berjamaah. Setelah berzikir barang lima menit, ia kembali ke tempatnya semula. Duduk mencangkung menanti receh dari tangan para pemurah yang tak takut diancam pidana kurungan atau denda oleh pemerintah. Menjelang berbuka puasa, Nimanwadi berbaur dengan yang lain menanti makanan gratis.
Diposting oleh
tedybanka
di
17:48
0
komentar
Friday, July 27, 2007
Hacker Family
24 Juli 2007 (kl g salah inget)
Iwan Sumantri adalah Sarjana Elektro lulusan IKIP Bandung –sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di bangku kuliah, ia belajar micro processor, micro controller, programming assembler, yang merupakan basic Information Technology (IT). Namun ia mengaku baru mengenal sistem jaringan sejak 1990. Iwan sendiri menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1991.

Tahun 1994 ia bergabung dengan Bandung One, sebuah komunitas internet radio (salah satu cikal bakal komunitas pengguna internet) yang dikelola Ono W. Purbo. Di Bandung sendiri internet masuk pada tahun 1996. Ketertarikannya di bidang IT khususnya hacking ini lebih kepada tantangan yang ditawarkan. “Saya melihat bidang ini penuh tantangan,” katanya.
Tahun 1995 ia mulai mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan jaringan di beberapa PTS di Bandung. Di tahun yang sama, ia bekerja sampingan sebagai admin (administrator) di Bappeda Jabar, sebagai freelance. Meski bukan karyawan tetap, di instansi pemerintah ini Iwan diserahi tugas membangun infrastruktur jaringan, maintenance jaringan, intranet, dan internet. “Di Jawa Barat domain pertama adalah milik Bappeda yang saya bangun ini,” terangnya.
Begitu jaringannya sudah terbangun dan berjalan normal, tak banyak lagi pekerjaan baginya. Akhirnya lelaki ini mencoba membuat program-program kecil untuk penetration testing dan assessment security. Bosan karena tak lagi dianggap menantang, Iwan memutuskan untuk keluar pada tahun 2000.
Begitu berhenti dari Bappeda, Iwan mendirikan web secure college tahun 2000. Ini adalah sebuah lembaga kursus hacking yang menjadi usaha sampingannya di luar profesinya sebagai dosen. “Bisa jadi ini kursus hacking pertama di Indonesia,” ungkapnya.
Dengan masa pendidikan selama enam bulan, peserta kursus yang kebanyakan adalah mahasiswanya diberikan belasan paket keahlian seperti Sun Solaris, linux, dan teknik hacking. Biayanya cukup murah, hanya Rp 1,9 juta per peserta per enam bulan. “Di tempat lain bisa puluhan juta,” ucapnya. Hingga kini, sudah lebih dari 300 orang yang pernah jadi peserta kursusnya.
Tak cukup hanya berbisnis, Iwan juga membentuk Web secure community yang dideklarasikan pada 3 Juli 2007, bertepatan dengan penyelenggaraan National Hacking Competition (NHC) Kedua di Bandung. Komunitas ini berawal dari beberapa mahasiswa dan peserta kursusnya, serta relasi hacker via chatting yang meminta untuk dibuatkan komunitas.
Di komunitas ini tidak ada istilah founder. Menurut Iwan, inilah yang membedakannya dengan beberapa komunitas lain, yang lebih eksklusif karena hanya menghimpun segelintir orang dan dibangun untuk kepentingan kelompoknya saja. Web Secure Community lebih terbuka termasuk dalam persoalan berbagi informasi. “Kami siap melakukan presentasi dengan pemda, kepolisian, atau pihak-pihak lain agar mereka mengerti apa itu hacking, dan melek tentang pentingnya keamanan sistem informasi," jelasnya soal salah satu tujuan komunitas ini.
Tak ada komentar miring dari para tetangganya soal aktifitas Iwan sebagai hacker. Rumusnya, ia mengaku menjalin kedekatan dengan tetangga-tetangganya. “Saya mengharuskan peserta kursus dan anggota komunitas saat azan untuk segera ke masjid,” katanya. Jurus ini terbukti ampuh. “Lagipula tetangga tidak tahu di rumah saya ada kelompok hacker. Apa itu hacker saja tidak tahu,” katanya sambil tersenyum.
Terdekat pekerjaan penetration testing dari sebuah institusi pemerintahan di Jakarta menanti Iwan dan teman-teman di komunitasnya. “Saya dapet subkontrak dari teman, seorang developer aplikasi,” jelasnya.
“Saya berharap pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar serta yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan teknologi informasi untuk merekrut hacker-hacker yang berbakat. Mereka membutuhkan wadah profesi. Kalau tidak disalurkan akan berdampak buruk,” harapnya.
Banyak hacker yang berbuat negatif dengan menjadi carding dan cracker. “Kegiatan semacam itu membuat nama bangsa kita menjadi jelek,” katanya. Sebagai catatan, Indonesia adalah peringkat kedua soal kejahatan carding setelah Ukraina.
Yang paling berbahaya sebetulnya mereka yang sedang belajar hacking. Karena mereka belum tahu akibatnya, seperti anak kecil akibat pengetahuannya yang terbatas. “Mereka yang sudah ekspert lebih tahu akbat dan lebih arif memperlakukan ilmu yang dimilikinya,” kata Iwan.
Dewasa ini, komunitas-komunitas hacker mengarah ke hal yang positif. “Ada kecendrungan menyalurkan bakatnya ini kearah yang lebih positif. Misalnya mengikuti fun hack. Atau membuat simulasi,” tuturnya. Hal ini ditunjang oleh lomba hacking baik yang bersifat nasional maupun lokal yang diadakan di Jogja dan Bandung. “Beberapa waktu ke depan akan ada lomba hacking lokal di bandung yang diadakan beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indoenesia,” ungkap Iwan.
Dengan keahlian yang ia miliki, tak berarti keringat Iwan dihargai dengan materi secara proporsional. Pada tahun 1995, pemilik sebuah lembaga pendidikan komputer di Bandung yang kebetulan adalah kenalannya mendatanginya. Dia kelabakan menghadapi tahun ajaran baru karena harus meng-update database-nya. “Dia minta tolong saya untuk menginstall server dan aplikasi dengan 500 user dan dikasih waktu 2 minggu,” kenang Iwan.
Masalahnya ternyata “sepele”. Password jaringan itu dipegang oleh admin yang kabur. “Kalau masalahnya itu, saya hanya butuh waktu 1 menit, tinggal riset password saja,” katanya saat itu pada sang teman. Iwan membuktikan ucapannya. Sayangnya, sang kenalan yang tak menepati janji. “Katanya dia mau ngasih Rp 7 juta. Begitu selesai saya hanya dikasih Rp 100 ribu,” katanya sembari tersenyum masam.
Lelaki kelahiran Jakarta, 22 November 1966 ini mengaku sempat kecewa kala itu. “Tidak semua orang mengerti bagaimana menghargai waktu dan ilmu,” ucapnya. Sebelumnya si kenalan sudah mencoba meminta bantuan ke orang lain.
Tahun 2005, Iwan dan beberapa temannya sempat membangun Sistem Informasi Aset Daerah milik Pemda Tasikmalaya. Nilai proyek itu Rp 600 juta, tapi ia hanya menjual sistem tersebut Rp 60 juta. “Sudah banyak tangan, saya itu subkontrak level ke empat,” katanya terkekeh.
Oleh Telkom, pada Januari 2007 ia diminta untuk mempresentasikan assessment security. Iwan diminta untuk melakukan penetration testing, yaitu menembus keamanan sistem jaringan milik Telkom. Pada hari dan jam yang berbeda, beberapa hacker lain juga diundang. Namun karena hanya ia yang berhasil mendeteksi kelemahan jaringan tersebut akhirnya ia mendapatkan proyek assessment security. Ia mengerjakan proyek itu bersama ketiga temannya. Dari Telkom ia mendapatkan Rp 27,5 juta.
Like Father Like Sons
Like Father Like Sons. Keahlian dan hobi Iwan terhadap dunia hacking menular pada ketiga anaknya. Sejak kelas 5 SD, Yahya A.F. Al Fath, Aiman A.F. Al Fath, dan Baasyir B. Al Bantani sudah fasih terhadap IT, khususnya hacking. Ketertarikan terhadap komputer lantaran sejak kecil mereka sering memperhatikan ayahnya yang sedang bekerja di depan komputer.
Di usia segitu, ketiga anaknya sudah bisa diajarkan pengetahuan dasar tentang operating system, misalnya windows, mengerti command-command, Tool VSPIP, dan mengerti eksploitasi kelemahan di suatu sistem. “Tapi jangan dipaksakan, biar mereka meminatinya sendiri. ketika sudah berminat baru diarahkan,” saran Iwan.
Awalnya, ketertarikan anak-anak dengan komputer kebanyakan hanya untuk bermain games. “Games itu menyita waktu, pikiran dan konsentrasi anak. Saat harus belajar mereka sudah jenuh karena pikiran dan konsentrasinya sudah ke games. Saya tidak ingin seperti itu dan mencoba menyalurkannya ke arah yang baik,” katanya.
Iwan pun merancang sebuah permainan hacking. Enam komputer miliknya yang juga digunakan untuk kursus, ia hubungkan dalam satu jaringan. “Saya menyembunyikan sebuah gambar, dan anak-anak saya harus menemukan gambar tersebut,” terangnya. Dari situlah anak-anaknya menggemari hacking.
Dari sisi psikologis si anak, tidak ada perbedaan dengan anak yang lain meski mereka menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Sebab, namanya anak-anak, sifat kekanakan tetap mendominasi. Ini bisa dilihat dari tingkat keseriusan yang rendah. “Makanya saya berikan materi-materi yang tidak terlalu memaksakan ia untuk berpikir. Kalau dipaksakan takutnya malah terhambat dari aspek kejiwaan,” jelas Iwan. Di lain sisi, ketiga anaknya tetap bisa bermain dengan teman-temannya, misalnya bermain sepeda, tambahnya.
Yahya mulai memencet tuts-tuts keyboard sejak kecil, sebelum ia masuk SD. Saat itu ia hanya tertarik bermain games. Begitu masuk SD, ia mulai tertarik dengan program dan aplikasi lain seperti Microsoft Word. Saat itulah sang ayah mulai melarangnya bermain games. Ia mengenal Programming saat kelas 1 SMP, namun baru belajar hacking saat kelas 3 SMP.
Untuk bisa hacking, programming dan jaringan adalah syarat mutlak dan harus dikuasai. Bagi Yahya, yang paling sulit adalah analisis jaringan dan pengecekan program. “Tapi sekarang sudah bisa,” katanya. Hacking tak hanya ia pelajari dari ayahnya tapi juga belajar sendiri dari internet.
Kala SMP inilah, Yahya mulai berbisnis kecil-kecilan. Kesukaannya bermain games menggiringnya untuk mencari cheat lewat internet. Saat berhasil, teman-temannya berbondong-bondong meminta cheat games untuk PC dan PS padanya. Naluri bisnis yang ditularkan sang ayah, membuat Yahya tak memberikan cheat-cheat tersebut secara cuma-cuma. Kode cheat ia print dan perbanyak. Setiap kode cheat ia jual Rp 1000. Dari situlah ia mendapatkan tambahan uang jajan.
Hacking tak lagi sekadar hobi bagi Yahya. Keseriusannya mendalami dunia itu membuatnya memilih untuk melanjutkan sekolah di SMKN 4 Bandung, sebuah sekolah Kejuruan Informatika. Di sekolah ini, ia memilih Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
Disini, ia diajarkan tentang programming dan mendapatkan latihan hacking. Lantaran bukan hal aneh baginya, tidak ada kesukaran baginya dalam soal semacam ini. Malah gurunya pun takjub atas kemampuannya. “Guru-gurunya nggak jago-jago amat,” katanya pelan.
Tak aneh, Yahya jadi idola baru di sekolahnya. “Teman-teman sering minta diajar,” katanya bangga.
Menguasai teknik hacking bagi anak seusianya bukan tanpa godaan. Ketika duduk di kelas 1 SMKN 4 Bandung, seorang teman sekolahnya menemukan kartu kredit. Lantas Yahya pun dibujuk untuk mengkrack kartu uang tersebut. Teringat larangan ayahnya, ia tidak mau terayu. “Sampe sekarang saya masih sering dibujuk,” bisiknya.
Namun, ia pernah juga kepikiran untuk menjadi carder. Kala itu, ABG ini naksir seorang cewek. Cerita punya cerita, ia janjian untuk ngedate dengan sang pujaan. “Pas mau ngapel nggak ada duit pisan,” katanya menerawang. Namun niat itu urung dilaksanakan. Tak ayal, ngedate pertamanya diongkosi sang cewek. Derita hatinya berbuah manis. “Akhirnya jadian juga sampe sekarang,” tuturnya sembari tersipu malu.
Yahya sempat mengikuti sebuah kompetisi hacking tingkat lokal. Saat itu, targetnya adalah menjebol server games counter strike. Menangkah ia waktu itu? “Ya begitulah,” tuturnya merendah. Berbeda dengan urusan cewek, keberhasilannya kali ini lebih karena kemampuannya.
Dari situlah kepercayaan dirinya semakin meningkat. Sialnya, saat NHC Pertama digelar, ia sedang terbaring sakit. Otomatis, kesempatannya untuk menjajal kemampuan hilang sudah. Namun ia tak patah arang dengan terus mengasah kemampuannya. Alhasil, saat NHC Kedua digelar di Bandung ia menyabet gelar Juara Pertama. “Saat itu saya ikut dalam tim bersama A’ Helmi,” jelasnya. Helmi adalah jawara NHC Pertama untuk wilayah Bandung, yang juga temannya di Web Secure Community.
Meski tak sendiri, ia baru bisa menjebol server itu lewat 15 menit dari waktu yang ditentukan panitia yang hanya 1 jam. Buat Yahya, kesukaran NHC kali ini ada pada analisis jaringan. “Pada saat pink (request komputer lain -red) tidak terdeteksi sehingga membutuhkan paket lain untuk itu,” jelasnya.
Sebagai anak sulung, ia sering mengajak bermain adik-adiknya. Dasar hacker family, permainannya pun bukan layaknya anak-anak lain. Di rumah ia sering mengusili komputer Aiman yang terhubung dalam satu jaringan dengan komputer miliknya. Usil ini acapkali disambut bagai gayung. Aiman dan dirinya pun saling beradu jago menjebol sistem komputer saudaranya. Keisengan ini berhenti tatkala Aiman melanjutkan SMP di Jogja. Sedang Baasyir masih terlalu kecil untuk diusili.
Disamping kesibukannya menghadapi grand final HNC di Jakarta 1 Agustus mendatang, Yahya sedang mencoba menerobos sebuah situs yang masih ia rahasiakan. “Niatnya kasih tahu admin-nya kalau ada kesalahan,” jelasnya. Soal ini, Yahya sudah cukup berpengalaman. Malah situs milik sekolahnya pernah jadi sasaran. “Ada beberapa kelemahan di situs sekolah,” katanya. Namun, demi keamanan, ia tak mau buka mulut lebih lebar soal ini.
Dunia hacking tampaknya sudah jadi pilihan buat Yahya. Niatnya, ia ingin melanjutkan kuliah di ITB. Namun saat ini ia tak bercita-cita jadi orang kaya dengan kemampuannya ini. “Saya ingin membuat hacker dianggap tidak jahat sama orang,” katanya. Caranya, ia bergabung dengan Web Secure Community dan rajin mengikuti kompetisi hacking.
Aiman, anak kedua Iwan mengikuti NHC Pertama dan Kedua. Meski tidak menjadi juara, ia sempat menarik perhatian banyak orang karena usianya yang teramat muda, 13 tahun.
“Aiman bidangnya keagamaan, dan interaksi dengan komputer jarang. Untungnya, di Islamic Centre bin Baaz, Bantul, siswa kelas 3 SMP ini mempunyai teman yang memiliki hobi yang sama. “Aiman memang lebih ke menyalurkan hobi, jadi belum fokus,” kata Iwan.
Sedangkan anak ketiganya, Baasyir B. Al Bantani tak mau kalah dari kedua kakaknya. Siswa kelas 6 SD berusia 10 tahun ini juga sudah jago ngehack. Meski begitu, Iwan belum mengikutsertakannya di kompetisi hacking. “Tahun depan rencananya akan diikutsertakan di NHC,’ kata Iwan.
Meski layak dilibatkan, Iwan mengaku enggan membawa anak-anaknya dalam dunia profesi yang ia geluti. “Nanti saya menyalahi aturan larangan pekerja anak,” tutur dosen mata kuliah Keamanan Sistem Informasi ini.
Agar tidak menyimpang, Iwan lebih mengarahkan mereka ke mentalitas berdasarkan agama. “Saya ingin anak saya jadi anak yang soleh. Jika jadi pejabat dia tidak korup, jika jadi pedagang dia tidak curang, jika jadi hacker, yang baik,” harapnya.
Iwan juga protektif dengan data milik Yahya. Laptop kepunyaan anaknya ini selalu di sidak (inspeksi mendadak). Mujur bagi Iwan, sampai saat ini buah hatinya tidak berjalan ke arah pronografi, cracker, dan carder.
Iwan patut bersyukur punya istri lulusan SI Informatika Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Jepang (LPKIJ). Sehingga tidak pernah komplain atas aktifitas suami dan anaknya. “Dulu istri saya malah sempat main security. Tapi semenjak punya anak, lebih fokus ke anak,” kata Iwan.
Diposting oleh
tedybanka
di
02:57
7
komentar